Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Membangun Karakter Jujur Siswa Melalui Sikap Keteladanan

Membangun Karakter Jujur Melalui Keteladanan


Kejujuran merupakan sifat yang mulai luntur di dalam kehidupan masyarakat kita saat ini. Dikatakan mulai luntur karena di setiap sisi kehidupan kita mulai kehilangan sifat-sifat kejujuran hidup. Kita jumpai banyak ketidakjujuran yang dipertontonkan di masyarakat kita. Praktek ketidakjujuran baik secara langsung maupun tidak langsung mudah ditemui.

Sikap ketidakjujuran secara langsung dapat kita jumpai juga dalam perilaku siswa kita di sekolah. Misalnya, mencontek, berkata tidak jujur kepada teman, berbohong kepada orang tua dan guru, dan lain sebagainya.

Jumlah mata pelajaran yang cukup banyak


Kurikulum pendidikan di Indonesia termasuk yang memiliki jumlah mata pelajaran tertinggi di dunia. Begitu banyak materi pelajaran yang harus dipelajari di sekolah. Pada sisi lain orangtua menuntut anaknya mendapat nilai baik tanpa tahu bagaimana proses mendapakan nilai tersebut. Anak menjadi tertekan karena beban mata pelajaran dan tuntutan orangtua. Hal ini berakibat anak berusaha mendapatkan nilai dengan berbagai macam cara sehingga terkadang mereka memilih berbuat tidak jujur, misal dengan cara mencontek.








Sekolah sebagai lembaga pendidikan merupakan lingkungan kedua bagi siswa yang bisa dipergunakan sebagai tempat untuk membangun karakter jujur kepada siswa. Dalam hal ini, guru memiliki peran penting dalam membangun budaya kejujuran di sekolah dengan menggunakan pendekatan keteladanan.

Seorang bijak mengatakan “perbuatan itu lebih berpengaruh ketimbang perkataan”. Perilaku dan tindakan nyata lebih berpengaruh daripada sekedar perkataan belak. Atas dasar perkataan itu seorang guru bisa menjadi teladan bagi siswanya melalui apa yang dilakukannya.

Jika seorang guru ingin membangun karakter jujur pada siswanya, maka karakter jujur itu harus terbiasa muncul dulu pada guru tersebut. Guru harus bisa memberikan contoh kepada muridnya. Misal ketika mengajar di kelas, guru harus jujur pada dirinya sendiri dan juga kepada anak-anak ketika tidak bisa menjawab pertanyaan anak-anak karena guru tersebut belum pernah mempelajari hal yang ditanyakan tersebut. Guru harus berani jujur mengatakan bahwa pernah melakukan kesalahan dalam mengajarkan suatu konsep, lalu kemudian segera memperbaikinya.

Perlu diketahui, jika seorang guru berani berkata jujur untuk mengakui kesalahannya di depan anak-anak didiknya, maka bukan berarti anak-anak didiknya tersebut akan mengurangi rasa hormatnya kepada guru itu, melainkan malah akan bertambah mengagumi kejujuran guru tersebut. Kebiasaan memberikan teladan kejujuran, akan direspon oleh siswanya dengan cara meniru kejujuran tersebut.

Perilaku jujur akan lebih tertanam dalam ingatan anak didik dari sekedar nasehat untuk kejujuran. Namun demikian bukan berarti guru tidak perlu menyampaikan nasehat-nasehat tentang kejujuran hidup kepada siswa. Guru tetap harus memberikan nasehat dan motivasi kejujuran secara lisan, dan juga implementasi kejujuran dalam keseharian di sekolah maupun di masyarakat.


Karakter kejujuran dalam pembelajaran


Kegiatan pembelajaran dapat dijadikan sebagai alat untuk menanamkan karakter jujur siswa. Syaratnya adalah guru harus membuat dan menjalankan rencana pelaksanaan pembelajaran setiap mata pelajaran yang memasukkan nilai karakter jujur pada kegiatan pembelajarannya di setiap kompetensi dasar yang dibebankan kepada siswa.

Siswa diharapkan tidak hanya melulu fokus pada nilai akademiknya saja tetapi juga nilai karakternya. Hal ini tentu saja akan semakin baik lagi hasilnya, jika didukung sekolah yang bersangkutan dengan cara membuatkan Rapot Karakter selain Raport Akademik yang biasanya. Dan jika memang memungkinkan lagi, dengan cara menjadikan nilai pada Raport Karakter tersebut sebagai salah satu syarat kenaikan kelas. Kebiasaan guru menilai kejujuran siswa dalam proses belajar mengajar akan menjadi stimulus kejujuran siswa.

Guru sebagai orangtua kedua bagi siswa harus mengembangkan sikap kritis terhadap permasalahan siswa. Guru dituntut untuk terampil dan peka terhadap masalah yang dihadapi siswanya, trampil menyelidiki ketidakjujuran siswa dan trampil memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi siswanya.

Jika guru ingin menerapkan reward dan punishment dalam pendampingan terhadap muridnya, dibutuhkan konsisten dalam penerapannya, sehingga apa yang dilakukan guru akan berpengaruh kuat terhadap anak untuk berbuat jujur.

Kebiasaan guru dalam memberikan masukan terhadap siswa secara kritis akan memunculkan respon siswa untuk mau berkata jujur terhadap permasalahannya.

Proses penilaian di setiap mata pelajaran pun bisa menjadi alat untuk menanamkan karakter jujur pada siswa. Syaratnya adalah guru harus membuat dan menjalankan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) setiap mata pelajaran yang memasukkan nilai karakter jujur pada kegiatan pembelajarannya di setiap kompetensi dasar yang dibebankan kepada siswa.

Kebiasaan guru menilai kejujuran siswa dalam proses belajar mengajar akan menjadi stimulus yang baik untuk menumbuhkan respon berupa kejujuran siswa.



Kesimpulan


Sebagai kesimpulan, bahwa usaha guru dalam menanamkan karakter jujur pada siswa dengan menggunakan pendekatan keteladanan, dapat dimulai dengan memberikan stimulus berupa keteladan jujur guru terlebih dulu. Kemudian berusaha menjadi guru yang difavoritkan anak-anak agar segala nasehat kita didengar dan diperhatikan oleh anak-anak.

Seorang guru juga harus terampil dalam bersikap kritis terhadap permasalahan siswa. Konsistensi reward dan punishment pun harus ditegakkan agar siswa akan terbiasa bersikap jujur.

Dan terakhir, guru harus membiasakan mengambil nilai karakter jujur siswa dalam kegiatan pembelajarannya di setiap mata pelajaran yang diterima anak-anak. Dengan begitu, stimulus-stimulus berupa pembiasaan untuk bersikap jujur akan menghasilkan respon-respon kejujuran dari anak-anak didik yang kemudian menjadi karakter mereka.

1 komentar untuk "Membangun Karakter Jujur Siswa Melalui Sikap Keteladanan"

  1. Saya sependapat dengan artikel ini. Kalau tidak dimulai dari sejak dini pembentukan karakter,, kapan lagi? Karena pembentukan karakter itu lebih bagus ketika masih kecil atau saat di dunia sekolah

    BalasHapus